Home

Selamat Datang di Media Resmi SMPN SATU ATAP LEMBANG CILILIN BANDUNG BARAT-Sekolah Literat-Kritis, Religius, Edukatif, Adaftif, Tangguh, Unggul, Kreatif

KRITIS

Mewujudkan peserta didik yang bernalar kritis sesuai dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila

RELIGIUS

Mengembangkan potensi peserta didik dengan kearifan lokal yang berbasis keagamaan

EDUKATIF

Mewujudkan pelayanan pendidikan yang berkualitas dan berpihak pada peserta didik

ADAPTIF

Menggali dan mengembangkan potensi peserta didik yang sesuai dengan profil belajarnya

TANGGUH

Mewujudkan peserta didik yang unggul, berkarakter dan siap bersaing di tataran global

INOVATIF

Mendorong peserta didik untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya

KREATIF

Mendorong peserta didik untuk memanfaatkan potensi yang dimilikinya

LITERASI

Mendorong warga sekolah untuk menjadi insan literat

PEMBIASAAN

Membudayakan kearifan lokal berbasis keagamaan

OSIS

Mendorong peserta didik untuk Pemimpin Pembelajaran

KETERAMPILAN ABAD 21

Mendorong peserta didik untuk cakap dalam mengikuti pembelajaran

GENERASI EMAS

Mendorong peserta didik untuk tampil percaya diri

MANDIRI

Mendorong peserta didik untuk memanfaatkan sarana belajar yang ada

TERAMPIL

Membimbing peserta didik untuk menjadi generasi unggul

BERPIHAK PADA MURID

Menggali potensi peserta didik untuk menjadi pribadi unggul

Tampilkan postingan dengan label Kurikulum Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum Merdeka. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 November 2023

MARI KITA KENALI KURIKULUM MERDEKA

  


Mengenal Kurikulum Merdeka

  • Kurikulum Merdeka bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkeadilan bagi semua murid, dan dirancang selaras dengan program-program Merdeka Belajar yang lain.
  • Kurikulum Merdeka dibuat sebagai kerangka yang fleksibel dan memerdekakan, untuk disesuaikan dengan visi misi sekolah, fasilitas sekolah, serta kebutuhan belajar murid, sehingga dapat diterapkan di semua satuan pendidikan dengan beragam kondisi.
  • Kurikulum Merdeka mendorong dan memudahkan pembelajaran

Penerapan Kurikulum Merdeka di Satuan Pendidikan

  • Kurikulum Merdeka merupakan sebuah kerangka yang perlu diterjemahkan menjadi kurikulum di tingkat satuan pendidikan.
  • Kurikulum operasional yang cocok untuk sebuah satuan pendidikan di Jakarta Pusat misalnya, bisa jadi berbeda dengan sekolah yang ada di Kepulauan Seribu. Projek penguatan karakter yang cocok untuk murid-murid di kota metropolitan akan berbeda dengan yang cocok untuk mereka yang ada di kota nelayan atau di desa yang agraris.
  • Fleksibilitas Kurikulum Merdeka memerlukan inisiatif, keaktifan, dan juga kepercayaan diri Ibu dan Bapak guru untuk merancang kurikulum operasionalnya sendiri.
  • Kemendikbudristek sudah menyediakan banyak contoh kurikulum operasional, modul pembelajaran, dan dokumen-dokumen lain di Platform Merdeka Mengajar. Tidak ada kewajiban satuan pendidikan untuk membuat dokumen-dokumen baru dari nol. Perlu diingat bahwa perubahan kurikulum ini seharusnya bukan soal administrasi, tetapi perbaikan kualitas pembelajaran.
  • Satuan pendidikan boleh memilih di antara tiga opsi dalam penerapan Kurikulum Merdeka, opsi mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi.
  • Kunci keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka adalah refleksi bersama yang dilakukan para guru dalam komunitas belajar baik di masing-masing satuan pendidikan maupun antar satuan pendidikan.



Tonton link video berikut ini. Video untuk memahami IKM

Rabu, 15 Maret 2023

Pembelajaran Berdiferensiasi?

 



Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun



Adalah menarik saat mempelajari Pembelajaran Berdiferensiasi. Bukan hanya dari tujuannya yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa saja, namun pembelajaran ini juga menitikberatkan pada produk pembelajaran, proses dan kontennya. Selain itu, Pembelajaran Berdiferensiasi bersifat proaktif, bersifat kualitatif, berakar pada penilaian, dan bersifat dinamis.


Penulis mencoba merangkum sejumlah keunggulan pembelajaran berdiferensiasi dari materi Modul 2 program calon guru penggerak. Diharapkan kita dapat memahami seberapa penting pembelajaran tersebut diimplementasikan di kelas.


Berpusat pada Murid

Pembelajaran berdiferensiasi menegaskan bahwa pengalaman belajar paling efektif, yakni pada saat proses pembelajaran berhasil melibatkan semua murid. Selain itu, prosesnya berlangsung secara efektif, dan menarik bagi mereka. Selanjutnya, pembelajaran berdiferensiasi memberi kesadaran bagi murid tentang keragaman pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang mereka miliki. Sehingga pembelajaran berdiferensiasi menitikberatkan kegiatan belajar mengajar yang mengedepankan partisipasi aktif semua murid. Dengan demikian dengan ikut terlibatnya murid dalam proses pembelajaran diharapkan membuat suasana menjadi aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.


Perpaduan dari Pembelajaran Kelas, Kelompok dan Individual

Pembelajaran berdiferensiasi memiliki kekhasan, yakni selalu diawali dengan persiapan kelas, mengulas pembelajaran yang sudah dipelajari, saling berbagi informasi, saling mengksplorasi individul maupun kelompok, kemudian memproduksi ide dan gagasan setiap murid. Sehingga tidaklah menherankan jika pembelajaran ini merupakan perpaduan kegiatan kelas, kelompok dan individu. Hal ini pun membuat proses pembelajaran  menjadi efektif dan efisien dalam pelaksanaannya.


Bersifat Dinamis

Pembelajaran berdiferensiasi mendorong terjadinya kolaborasi yang berkelanjutan antar guru dengan murid. Hal ini sangat diperlukan dalam mendorong pembelajaran yang efektif, karena kita menyadari kedudukan guru dan murid merupakan ‘pembelajar’. Boleh jadi guru merupakan sosok yang lebih mengetahui dan berpengalaman dalam ilmu pengetahuan dan materi ajar, namun murid juga memiliki potensi yang yang digali dan dikembangkan. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian yang harmonis di antara guru dengan murid, agar proses pembelajaran menjadi dinamis.


Bersifat Proaktif

Sebagai guru, kita memerlukan persiapan dalam perencanaan pembelajaran. Hal ini untuk menjadikan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan dan memenuhi kebutuhan murid. Oleh karena itu, pembelajaran diferensiasi mendorong guru untuk selalu proaktif dalam mengakomodasi kebutuhan muridnya dan menjadikan proses pembelajaran senantiasa berorientasi kepada kesiapan, minat dan profil belajar murid.


Bersifat Kualitatif

Pembelajaran berdiferensiasi mengubah paradigma kurang tepat yang biasa guru lakukan sebelumnya, yakni dengan memberikan tambahan tugas kepada murid yang memiliki kemamupuan di atas rata-rata. Padahal tetap saja hal ini akan menjadi beban tersendiri bagi murid yang lainnya. Oleh karena itu pembelajaran ini mendorong guru untuk mengubah beban tugas menjadi sifat tugas yang berorientasi bagi pemenuhan kebutuhan murid disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil belajar mereka.



Berakar pada Penilaian

Di dalam pembelajaran berdiferensiasi, penilaian diagnostik secara rutin harus dilakukan pada saat unit/materi pelajaran dimulai. Oleh karena itu, penilaian tidak lagi didominasi sesuatu yang terjadi pada akhir unit, termasuk untuk menentukan siapa yang mendapatkannya.  Selain itu, di sepanjang unit pembelajaran, guru menilai tingkat kesiapan, minat, dan pendekatan belajar yang digunakan murid dan kemudian merancang pengalaman belajar berdasarkan pemahaman terbaru dan terbaik tentang kebutuhan mereka. Kemudian, untuk produk akhir, dipilih berbagai bentuk penilaian untuk menemukan cara terbaik bagi setiap murid guna menunjukkan hasil belajarnya selama unit pembelajaran berlangsung.


Menggunakan Ragam Pendekatan terhadap konten, proses, dan produk

Seperti diketahui, guru harus bersinggungan dengan tiga elemen kurikuler, yakni konten, proses, dan produk belajar. Hal ini berkaitan dengan masukan, apa yang dipelajari murid, bagaimana murid berupaya memahami ide dan informasi,  dan keluaran, atau bagaimana murid menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. Dengan demikian, guru menawarkan pendekatan yang berdeda terhadapa apa yang dipelajari murid.


Selanjutnya, kesamaan dari pendekatan yang berbeda ini adalah bahwa semuanya dibuat untuk mendorong pertumbuhan semua murid dalam usaha mereka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan untuk memajukan atau meningkatkan proses pembelajaran baik untuk kelas secara keseluruhan maupun untuk murid secara individu.


Simpulan

Pembelajaran berdiferensiasi sesungguhnya serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Semuanya terkait dengan bagaimana seorang guru menciptakan lingkungan belajar yang menarik minat murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.


Tentu saja diperlukan kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.


Akhirnya,  pembelajaran berdiferensiasi memberikan keleluasaan pada murid untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa, dan pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten/materi. ***


Sumber: Modul 2 Program Calon Guru Penggerak Angkatan IV tahun 2022 yang diadaptasi dari How to Differentiate Instruction in Academically Diverse Classrooms, 3rd Edition, oleh Carol Ann Tomlinson, Alexandria, VA: ASCD. ©2017 oleh ASCD. Hak cipta terdaftar.


Terbit juga di Pembelajaran Berdiferensiasi? (ruangberita-bandungbarat.blogspot.com)

Jumat, 24 Februari 2023

MENCIPTAKAN SEKOLAH RAMAH ANAK

 


Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

Adalah  menarik ketika mencermati sejumlah fenomena yang terjadi di lingkungan sekolah.  Banyak kejadian yang membuat kita miris, seperti kasus perundungan, kekerasan yang dilakukan sesama siswa, perlakuan kasar guru kepada siswa atau sebaliknya, hingga pelecehan seksual di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat yang aman  dan nyaman bagi warga sekolah.

Pemerintah, sebenarnya telah membuat regulasi yang bertujuan untuk melindungi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan. Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah mengeluarkan kebijakan tentang perlindungan keterlaksanaan pendidikan bagi seluruh warga sekolah dan semua proses belajar mengajar.

Lahirnya program Sekolah Ramah Anak sebagai perwujudan kebijakan di atas, memiliki tujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan menyenangkan bagi warga sekolah, terutama pseserta didik.

Sekolah Ramah Anak

Berdasarkan konsep  Sekolah Ramah Anak yang dituangkan dalam panduannya oleh Kemen PPPA pada 2015, mendefinisikan bahwa Sekolah Ramah Anak merupakan bentuk pendidikan formal, nonformal, dan  informal. Hal tersebut menunjukan bahwa sekolah bersifat aman, bersih, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup. Semuanya dilaksanakan demi menjamin, memenuhi, dan melindungi hak peserta didik dari segala bentuk diskriminasi serta kekerasan di bidang pendidikan.

Selain itu, Sekolah Ramah Anak juga didorong untuk mendukung partisipasi aktif anak, terutama dalam hal perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, serta mekanisme pengaduan yang berkaitan dengan hak dan perlindungan mereka di lingkungan pendidikan.

Di sisi lain, peran guru, menurut, Menteri PPPA, Bintang Puspayoga (2022) konsep Sekolah Ramah Anak adalah mengubah paradigma kepada peserta didik, yakni dari pengajar menjadi pembimbing, orang tua dan sahabat anak, memberikan teladan perilaku yang benar dalam interaksi sehari-hari di satuan pendidikan. Kemudian, memastikan orang dewasa di satuan pendidikan terlibat penuh dalam melindungi anak dari ancaman yang ada di satuan Pendidikan, dan memastikan orang tua dan anak terlibat aktif dalam berbagai aktivitas.

Selanjutnya, Kemen PPPA juga telah menetapkan enam komponen Sekolah Ramah Anak, yaitu:

  1.  Kebijakan Sekolah Ramah Anak, termasuk untuk memetakan kelompok anak rentan.
  2. Pendidik dan tenaga kependidikan terlatih.
  3. Konveksi Hak Anak dan Sekolah Ramah Anak.
  4. Pelaksanaan proses belajar yang ramah anak dalam pelaksanaan Sekolah Ramah Anak.
  5. Sarana dan prasarana ramah anak.  
  6. Partisipasi anak,  dan partisipasi orang tua, alumni, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha. Sehingga Sekolah Ramah Anak bukan merupakan kewajiban tenaga pendidikan saja namun juga unsur-unsur di luar sekolah.

Konsep di atas memberikan ruang bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Selain itu, Sekolah Ramah Anak juga tidak hanya melibatkan peran sekolah, namun juga peran serta orang tua dan masyarakat.

Terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman dapat dilakukan dengan berbagai program yang berpihak pada murid, di antaranya guru menempatkan diri sebagai fasilitator yang memfasilitasi seluruh proses pembelajaran. Posisi  sebagai fasilitator memberikan ruang kepada para peserta didik untuk mampu menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Penggalian dan pengembangan potensi murid bisa melalui kegiatan diskusi yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk berkreasi dan aktif menyampaikan ide dan gagasannya secara demokratis. Selain itu, dengan menyelengarakan program seni dan budaya, serta bidang kesiswaan lainnya, bisa meningkatkan kepercayaan diri peserta didik. Sehingga, mereka akan terfasilitasi minat dan bakat yang dimilikinya.

Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam konsep PAKEM yang beberapa waktu digulirkan, diyakini dapat mewujudkan suasana belajar mengajar menjadi aman dan nyaman. Kreativitas dan inovasi guru pada konsep pebelajaran tersebut, juga memungkinkan anak dapat merasakan kondisi belajar yang menarik dan bermakna.

Di lain pihak, peran serta orang tua dan masyarakat sangat memegang kunci keberhasilan pendidikan. Peran mereka dapat diwujudkan dengan menjadi pendukung program sekolah, sesuai dengan visi dan misi yang dicanangkannya.

Peran serta komite sekolah selaku perwujudan orang tua dapat dituangkan dengan memberikan masukan atas arah kebijakan sekolah, di antaranya mendorong orang tua siswa untuk membentengi anak-anaknya melalui pendidikan budi pekerti, dan pendekatan keagamaan yang baik. Termasuk peran masyarakat sebagai social control yang memberikan pengawasan yang konstruktif  demi peningkatan kualitas pelayanan pendidikan di sekolah.

Simpulan

Diperlukan sinergisitas dan kolaborasi semua pihak untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Dengan demikian, cita-cita untuk menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi peserta didik, umumnya bagi warga sekolah, akan optimal, sehingga kelak akan lahir generasi yang unggul, cerdas, berakhlak mulia, dan pelayanan pendidikan pun akan semakin berkualitas.***


Dari berbagai sumber.

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Kepala SMPN Satap Lembang Cililin sejak 2022. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat (1999-2022). Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat (2007-2022). Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

email: œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun. 

 

 

 


Jumat, 17 Februari 2023

Contoh RPP Berdiferensiasi

 


Rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP adalah sebuah dokumen penting yang berisi gambaran bagaimana suatu pembelajaran akan dilakukan selama satu kali pertemuan, satu semester, atau lebih. RPP ini biasanya disiapkan oleh guru sebelum memulai kegiatan pembelajaran di sekolah.

Silakan Klik di sini.

Contoh RPP Berdiferensiasi

KARYA TULIS ILMIAH




Bagi yang berkenan memiliki materi KTI silakan klik di sini.

Materi KTI

Selasa, 14 Februari 2023

Pengertian Profil Pelajar Pancasila

 



Definisi Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila merupakan sejumlah karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila.

Kegunaan Profil Pelajar Pancasila

  • Menerjemahkan tujuan dan visi pendidikan ke dalam format yang lebih mudah dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan
  • Menjadi kompas bagi pendidik dan pelajar Indonesia
  • Tujuan akhir segala pembelajaran, program, dan kegiatan di satuan pendidikan

Dimensi dan Elemen Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila memiliki 6 dimensi dan beberapa elemen di dalamnya.Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Mandiri, Bergotong royong, Bernalar kritis, Kreatif.


Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berahlak Mulia

Elemen






Akhlak beragama

Fase A

Mengenal dan Mencintai Tuhan Yang Maha Esa

Mengenal sifat-sifat utama Tuhan Yang Maha Esa bahwa Dia adalah Sang Pencipta yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan mengenali kebaikan dirinya sebagai cerminan sifat Tuhan

Pemahaman Agama/Kepercayaan

Mengenal unsurunsur utama agama/ kepercayaan (ajaran, ritual keagamaan, kitab suci, dan orang suci/ utusan Tuhan YME).

Pelaksanaan Ritual Ibadah

Terbiasa melaksanakan ibadah sesuai ajaran agama/ kepercayaannya.


Akhlak Pribadi

Fase A

Integritas

Membiasakan bersikap jujur terhadap diri sendiri dan orang lain dan berani menyampaikan kebenaran atau fakta

Merawat Diri secara Fisik, Mental, dan Spiritual

Memiliki rutinitas sederhana yang diatur secara mandiri dan dijalankan sehari-hari serta menjaga kesehatan dan keselamatan/ keamanan diri dalam semua aktivitas kesehariannya.


Akhlak Kepada Manusia

Fase A

Mengutamakan persamaan dengan orang lain dan menghargai perbedaan

Mengenali hal-hal yang sama dan berbeda yang dimiliki diri dan temannya dalam berbagai hal, serta memberikan respons secara positif.

Berempati kepada orang lain

Mengidentifikasi emosi, minat, dan kebutuhan orang-orang terdekat dan meresponsnya secara positif.  


Akhlak Kepada Alam

Fase A

Memahami Keterhubungan Ekosistem Bumi

Mengidentifikasi berbagai ciptaan Tuhan

Menjaga Lingkungan Alam Sekitar

Membiasakan bersyukur atas lingkungan alam sekitar dan berlatih untuk menjaganya.


Akhlak Benegara

Fase A

Melaksanakan Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara Indonesia

Mengidentifikasi hak dan tanggung jawabnya di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar serta kaitannya dengan keimanan kepada Tuhan YME.



Berkebinekaan Global

Elemen




Mengenal dan Menghargai Budaya

Fase A

Mendalami budaya dan identitas budaya

Mengidentifikasi dan mendeskripsikan ideide tentang dirinya dan beberapa kelompok di lingkungan sekitarnya

Mengeksplorasi dan Membandingkan Pengetahuan Budaya, Kepercayaan, serta Praktiknya

Mengidentifikasi dan mendeskripsikan praktik keseharian diri dan budayanya

Menumbuhkan rasa menghormati terhadap keanekaragaman budaya

Mendeskripsikan pengalaman dan pemahaman hidup bersama-sama dalam kemajemukan.



Komunikasi dan Interaksi Antar Budaya

Fase A

Berkomunikasi antar budaya

Mengenali bahwa diri dan orang lain menggunakan kata, gambar, dan bahasa tubuh yang dapat memiliki makna yang berbeda di lingkungan sekitarnya

Mempertimbangkan dan menumbuhkan berbagai perspektif

Mengekspresikan pandangannya terhadap topik yang umum dan mendengarkan sudut pandang orang lain yang berbeda dari dirinya dalam lingkungan keluarga dan sekolah.


Bergotong Royong

Elemen



Berbagi

Fase A

Memberi dan menerima hal yang dianggap berharga dan penting kepada/dari orangorang di lingkungan sekitar.



Mandiri

Elemen

Pemahaman diri dan situasi yang dihadapi

Fase A

Mengenali kualitas dan minat diri serta tantangan yang dihadapi

Mengidentifikasi dan menggambarkan kemampuan, prestasi, dan ketertarikannya secara subjektif

Mengembangkan refleksi diri

Melakukan refleksi untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta prestasi dirinya.


Regulasi Diri

Fase A

Regulasi emosi

Mengidentifikasi perbedaan emosi yang dirasakannya dan situasi-situasi yang menyebabkan-nya; serta mengekspresikan secara wajar

Penetapan tujuan belajar, prestasi, dan pengembangan diri serta rencana strategis untuk mencapainya

Menetapkan target belajar dan merencanakan waktu dan tindakan belajar yang akan dilakukannya.

Menunjukkan inisiatif dan bekerja secara mandiri

Berinisiatif untuk mengerjakan tugastugas rutin secara mandiri dibawah pengawasan dan dukungan orang dewasa

Mengembangkan pengendalian dan disiplin diri

Melaksanakan kegiatan belajar di kelas dan menyelesaikan tugastugas dalam waktu yang telah disepakati.

Percaya diri, tangguh (resilient), dan adaptif

Berani mencoba dan adaptif menghadapi situasi baru serta bertahan mengerjakan tugas-tugas yang disepakati hingga tuntas



Bernalar Kritis

Elemen

Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan

Fase A

Mengajukan pertanyaan

Mengajukan pertanyaan untuk menjawab keingintahuannya dan untuk mengidentifikasi suatu permasalahan mengenai dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah informasi dan gagasan

Mengidentifikasi dan mengolah informasi dan gagasan


Menganalisis dan mengevaluasi penalaran dan prosedurnya

Fase A

Elemen menganalisis dan mengevaluasi penalaran dan prosedurnya

Melakukan penalaran konkret dan memberikan alasan dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan


Refleksi pemikiran dan proses berpikir

Fase A

Merefleksi dan mengevaluasi pemikirannya sendiri

Menyampaikan apa yang sedang dipikirkan secara terperinci



Kreatif

Elemen

Menghasilkan gagasan yang orisinal

Fase A

Menggabungkan beberapa gagasan menjadi ide atau gagasan imajinatif yang bermakna untuk mengekspresikan pikiran dan/atau perasaannya.


Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal

Fase A

Mengeksplorasi dan mengekspresikan pikiran dan/atau perasaannya dalam bentuk karya dan/ atau tindakan serta mengapresiasi karya dan tindakan yang dihasilkan


Memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan

Fase A

Mengidentifikasi gagasan-gagasan kreatif untuk menghadapi situasi dan permasalahan.




Untuk Panduan silakan 'Klik' di sini.

Panduan P5